Selasa, 19 Mei 2009

Darah Perawan?? Ah,, Tidak Ada!!

Di masyarakat manapun diyakini bahwa hilangnya keperawanan sebelum pernikahan merupakan hal yang memalukan. Istilah ”Darah Perawan” biasanya digunakan untuk mengambarkan seseorang yang belum pernah mengalami hubungan seksual.

Keberadaan selaput dara yang tampak secara fisik, sering dipakai sebagai bukti adanya keperawanan. Karena itu di banyak wilayah entah yang sudah maju maupun yang sedang berkembang dengan pengetahuan dan persepsi tentang seksualitas yang masih rendah, terkoyaknya selaput dara dengan keluarnya darah ini diyakini akan terjadi saat seorang wanita baru pertama kali berhubungan seks. Darah inilah yang kemudian terkenal dengan sebutan “Darah Perawan”.

Faktanya tidak ada yang disebut “Darah Perawan” itu. Demikian diungkapkan Prof. Wimpie Pangkahila, Sp. And., dari pusat Androlori dan Seksologi, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali, dalam Simposium Internasional Pertama Kedokteran Seksual di Hotel Hyatt Regency, pertengahan Agustus 2008.

Selanjutnya spesialis andrologi yang juga berpraktik di Klinik Andrologi dan Seksologi RS Sanglah Denpasar ini menyebutkan bahwa, wanita yang secara seksual tidak terangsang atau mengalami hambatan psikogenik (psikis dan genetika), bisa jadi mengalami perdarahan saat melakukan hubungan seksual. Sebaliknya, wanita yang terangsang secara seksual dan tidak mengalami hambatan psikogenik tidak akan mengalami perdarahan saat berhubungan seksual, sekalipun ini merupakan pengalaman seksualnya yang pertama. Dengan demikian, jelas sudah dan tidak diragukan bahwa persoalan “Darah Perawan” hanyalah mitos belaka.

Sayangnya, mitos “Darah Perawan” ini kerap kali memunculkan masalah yang justru merugikan wanita. Sang suami bisa jadi dengan mudah menceraikan si istri gara-gara tidak melihat “Darah Perawan” saat mereka berhubungan seksual. Di negara seperti Turki, uji keperawanan atas permintaan klien yang dilakukan para dokter yang tergabung dalam Turkish Medical Association menemukan bahwa uji ini tidak menghasilkan apa-apa. Terkoyaknya selaput dara tidak berarti bahwa Si Perempuan tersebut sudah melakukan hubungan seksual. Bisa jadi ini terjadi akibat pengunaan tampon atau masturbasi menggunakan alat dan sempat menyentuh atau merusak vagina. Di sisi lain ada juga wanita yang secara kongenital atau sejak lahir tidak memiliki selaput dara. Angkanya sekitar 0,03%.

Sebaliknya, selaput dara yang tidak terkoyak bukan berarti bahwa Si Wanita tidak pernah berhubungan seksual. Terkoyaknya selaput dara tidak mesti akibat hubungan seksual.

-Terbelah Secara Komplet-

Penelitian pada selaput dara 1.000 wanita dewasa yang memiliki pengalaman berhubungan seksual menunjukkan bahwa penampilan selaput dara pada kebanyakan dari mereka tampak kacau, tidak menentu, dan mengumpul di bagian pinggir vagina. Jarang terjadi selaput dara terbelah secara komplet atau benar-benar sobek. Lebih lanjut, status selaput dara pada dasarnya tidak bisa dikaitkan dengan kebiasaan seksual. Selaput dara yang utuh atau lengkap tidak bisa diartikan bahwa si wanita tidak pernah berhubungan seks sama sekali. Sebaliknya, seorang wanita mungkin sangat aktif dengan segala bentuk hubungan seks, termasuk oral seks, tetapi selaput daranya tetap utuh.

Situasi yang tidak jelas ini menurut para dokter menjelaskan hal yang sesungguhnya mengenai keperawanan dan selaput dara ini. Sayangnya, ada beberapa dokter yang justru malah melakukan praktik memperbaiki atau meniru selaput dara.

Pada tahun 1960, praktik yang disebut hymenoplasty ini berkembang di Jepang pada banyak gadis yang sudah sering melakukan hubungan seks. Meski para dokter yang mempraktikkan hymenoplasty ini beralasan bahwa etika rekonstruksi selaput dara ini bisa dibandingkan dengan bedah plastik, pendapat ini tidaklah ilmiah.

Tindakan bedah plastik dilakukan pada bagian tubuh seperti wajah atau payudara dan tidak terkait dengan mitos. Soal keperawanan atau selaput dara ini mitos.

Para dokter ini diharapkan memiliki tanggung jawab moral untuk menghadang mitos yang membodohi dan tidak membawa manfaat apapun. Dengan demikian, tindakan peniruan selaput dara atau hymenoplasty pada gadis yang sudah tidak perawan lagi merupakan tindakan memelihara, mengabadikan mitos tentang selaput dara dan keperawanan.

PriNceSs_W’Day^^

10 komentar:

  1. bagus banget dah milih info yg mau diposting kali ini! bentar lg pasti banyak dah pengunjungnya!!! keep spirit!! I love u princess W'daY....

    BalasHapus
  2. hahaha... makasih2...
    mudah2an aja bs brmanfaat bwt org byk..

    BalasHapus
  3. haahahah sip nice info deh...eh ini blog baru yah?? salam kenal deh.....jangan lupa berkunjung and komen di blog aku yah...wajib heheheh aku follow nih oke..follow balik yah

    BalasHapus
  4. eh boleh gak aku re-post ini tulisan di blog aku..kayaknya bakal jadi ilmu yang bagus nih bagi temen2..kalo setuju tolong kabari aku yang sms aja ke 085727214396.....kalo gak konfirmasi aja ke blog aku..yah yah yah...(kalo boleh sih bakal aku re-post)

    BalasHapus
  5. .hahaha...
    iia,, gpp kok kLo mo d re-post.
    tp cantumin bLog aq yap...!!
    hehehe...
    skaLian promo.
    mkLum bLog bru.

    sLam knL jg yah..
    ^^

    BalasHapus
  6. ooh baru tahu infi yang menarik...keep post ya...

    salam nal

    BalasHapus
  7. wahh blognya bagus bgt mbaq!! saya re-post ya mbaq...

    thanks

    BalasHapus
  8. menarik artikelnya, selama ini kebayakan wanita (tdk smua) tdk berani melakukan hubungan sex diluar nikah karena takut hilang keperawanannya atau spt yg anda sebut dgn mitos di atas, wanita takut suaminya kelak tdk menemukan bukti fisik keperawanan setelah mereka melakukan hubungan suami istri di malam pengantinnya. lebih banyak dari mereka bkn takut pada (maaf) dosa zinahnya tp ya karena takut kehilangan bukti fisik keperawanan utk suaminya kelak. Meski mungkin secara medis bahwa darah yg disebut hanya mitos belaka, tp saya tdk berpikir itu sebuah pembodohan, nenek moyang kita selalu menyampaikan pesan lewat hal hal yg secara modern gk masuk akal sama sekali, contoh mungkin anda pernah dengar kata kata berikut dari orang tua kita, terutama ortu ortu yg terhitung generasi dulu, kata kata spt ini : "udah magrib tutup pintunya nanti hantu masuk" logikanya bkn hantu namanya klo nunggu pintu terbuka baru bisa masuk, hahha ortu hanya ingin menciptakan rasa takut biar anaknya gk kelayapan malam2, ngumpul dirmh, makan mlm bareng, shalat magrib berjama'ah. dan banyak lagi pesan2 gk masuk akal, spt jgn potong kuku mlm2, jgn beli jarum malam2, jgn beli minyak tanah malam2, dan banyak lagi. semuanya klo kita logikan jadi lucu dan gak masuk akal, tp klo kita cermati ternyata dari pesan pesan itu menyimpan tujuan yg baik buat kita. Demikian hal nya dgn darah perawan, apa nenek moyang kita dulu gk ngerti kalau ternyata perawan itu gk slalu berdarah...? mereka lebih dulu merawani wanita ketimbang kita, mereka lebih tau dulu sex ketimbang kita, klo gak ya mungkin kita gak bakal ada didunia ini hhahahha...tp kenapa mitos itu mereka pertahankan dan mereka wariskan mitos tsb generasi ke generasi, tak lain adalh agar menciptakan rasa takut pada wanita untuk melakukan hubungan sex diluar nikah, karena tdk saja dosa tapi akibatnya banyak banget. tapi sekarang saya ucapkan selamat untuk anda yg telah memuat artikel yg menghilangkan rasa takut itu pada wanita, jadi jangan heran jika zinah semakin parah dinegara yg notabene muslim ini, bahkan tdk tanggung2 3 SMP sdh banyak yg berani zinah. selamat buat penelitian dokter2 anda sukses.

    BalasHapus