Di masyarakat manapun diyakini bahwa hilangnya keperawanan sebelum pernikahan merupakan hal yang memalukan. Istilah ”Darah Perawan” biasanya digunakan untuk mengambarkan seseorang yang belum pernah mengalami hubungan seksual.
Keberadaan selaput dara yang tampak secara fisik, sering dipakai sebagai bukti adanya keperawanan. Karena itu di banyak wilayah entah yang sudah maju maupun yang sedang berkembang dengan pengetahuan dan persepsi tentang seksualitas yang masih rendah, terkoyaknya selaput dara dengan keluarnya darah ini diyakini akan terjadi saat seorang wanita baru pertama kali berhubungan seks. Darah inilah yang kemudian terkenal dengan sebutan “Darah Perawan”.
Faktanya tidak ada yang disebut “Darah Perawan” itu. Demikian diungkapkan Prof. Wimpie Pangkahila, Sp. And., dari pusat Androlori dan Seksologi, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali, dalam Simposium Internasional Pertama Kedokteran Seksual di Hotel Hyatt Regency, pertengahan Agustus 2008.
Selanjutnya spesialis andrologi yang juga berpraktik di Klinik Andrologi dan Seksologi RS Sanglah Denpasar ini menyebutkan bahwa, wanita yang secara seksual tidak terangsang atau mengalami hambatan psikogenik (psikis dan genetika), bisa jadi mengalami perdarahan saat melakukan hubungan seksual. Sebaliknya, wanita yang terangsang secara seksual dan tidak mengalami hambatan psikogenik tidak akan mengalami perdarahan saat berhubungan seksual, sekalipun ini merupakan pengalaman seksualnya yang pertama. Dengan demikian, jelas sudah dan tidak diragukan bahwa persoalan “Darah Perawan” hanyalah mitos belaka.
Sayangnya, mitos “Darah Perawan” ini kerap kali memunculkan masalah yang justru merugikan wanita. Sang suami bisa jadi dengan mudah menceraikan si istri gara-gara tidak melihat “Darah Perawan” saat mereka berhubungan seksual. Di negara seperti Turki, uji keperawanan atas permintaan klien yang dilakukan para dokter yang tergabung dalam Turkish Medical Association menemukan bahwa uji ini tidak menghasilkan apa-apa. Terkoyaknya selaput dara tidak berarti bahwa Si Perempuan tersebut sudah melakukan hubungan seksual. Bisa jadi ini terjadi akibat pengunaan tampon atau masturbasi menggunakan alat dan sempat menyentuh atau merusak vagina. Di sisi lain ada juga wanita yang secara kongenital atau sejak lahir tidak memiliki selaput dara. Angkanya sekitar 0,03%.
Sebaliknya, selaput dara yang tidak terkoyak bukan berarti bahwa Si Wanita tidak pernah berhubungan seksual. Terkoyaknya selaput dara tidak mesti akibat hubungan seksual.
-Terbelah Secara Komplet-Penelitian pada selaput dara 1.000 wanita dewasa yang memiliki pengalaman berhubungan seksual menunjukkan bahwa penampilan selaput dara pada kebanyakan dari mereka tampak kacau, tidak menentu, dan mengumpul di bagian pinggir vagina. Jarang terjadi selaput dara terbelah secara komplet atau benar-benar sobek. Lebih lanjut, status selaput dara pada dasarnya tidak bisa dikaitkan dengan kebiasaan seksual. Selaput dara yang utuh atau lengkap tidak bisa diartikan bahwa si wanita tidak pernah berhubungan seks sama sekali. Sebaliknya, seorang wanita mungkin sangat aktif dengan segala bentuk hubungan seks, termasuk oral seks, tetapi selaput daranya tetap utuh.
Situasi yang tidak jelas ini menurut para dokter menjelaskan hal yang sesungguhnya mengenai keperawanan dan selaput dara ini. Sayangnya, ada beberapa dokter yang justru malah melakukan praktik memperbaiki atau meniru selaput dara.
Pada tahun 1960, praktik yang disebut hymenoplasty ini berkembang di Jepang pada banyak gadis yang sudah sering melakukan hubungan seks. Meski para dokter yang mempraktikkan hymenoplasty ini beralasan bahwa etika rekonstruksi selaput dara ini bisa dibandingkan dengan bedah plastik, pendapat ini tidaklah ilmiah.
Tindakan bedah plastik dilakukan pada bagian tubuh seperti wajah atau payudara dan tidak terkait dengan mitos. Soal keperawanan atau selaput dara ini mitos.
Para dokter ini diharapkan memiliki tanggung jawab moral untuk menghadang mitos yang membodohi dan tidak membawa manfaat apapun. Dengan demikian, tindakan peniruan selaput dara atau hymenoplasty pada gadis yang sudah tidak perawan lagi merupakan tindakan memelihara, mengabadikan mitos tentang selaput dara dan keperawanan.
PriNceSs_W’Day^^